Selasa, 30 April 2013

Keanekaragaman Bangsa Indonesia, dan potensi konflik


BAB 1
PENDAHULUAN

KEANEKARAGAMAN BANGSA INDONESIA DAN POTENSI KONFLIK

Sebagai upaya untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang dapat berdiri sejajar dengan negara-negara maju di dunia, maka Kementerian Agama melalui Balitbangdiklat Kementerian Agama mengadakan kegiatan yang telah dilaksanakan secara berkesinambungan dari tahun ke tahun yaitu Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural Antara Pemuka Agama Pusat dan Daerah. Acara  dialog multikultural ini diadakan di Provinsi Sumatera Barat sejak tanggal 19 s.d. 23 Maret 2012. Rombongan dari tingkat Pusat dipimpin oleh Dr.H. Imam Tholkhah, MA, Pelaksana Harian Kepala Puslitbang kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag.
Kegiatan yang mengikutsertakan enam pemuka agama  tingkat pusat yang diakui di Indonesia juga diikuti oleh pemuka-pemuka agama yang berasal dari dari daerah Sumatera Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan masukan dan melihat secara nyata kondisi kehidupan umat beragama di Sumatera Barat. Diharapkan dari kegiatan ini akan terungkap beberapa persoalan keumatan diantaranya kasus-kasus aktual dan potensi yang dapat menimbulkan konflik dalam kehidupan beragama di Sumatera Barat, serta potensi kerukunan (local wisdom) yang dapat dikembangkan untuk dapat menangkal konflik tersebut.
Rangkaian kegiatan ini di awali dengan melakukan kunjungan dan dialog antara pemuka agama pusat dengan umat Hindu di Pure Jagatnata di kawasan LANUD Tabing Padang, yang akan dilanjutkan dengan mengunjungi rumah ibadat umat lainnya, yaitu Masjid Raya Ganting dan Vihara  Budhawarman di kota Padang serta Gereja HKBP Jl. Syafei dan Gereja Katholik Jl. Sudirman di kota Bukittinggi.
Kegiatan dialog  multikultural ini dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat di Hotel Rocky, kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama pemuka-pemuka  Agama se-Sumatera Barat. Dialog yang dilaksanakan dalam 3 sesi tersebut menampilkan pembicara dari Kepala Kesbangpol Linmas, Ketua FKUB, MUI, Perwakilan Umat Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khonghucu dan tokoh Adat Sumatera Barat.



BAB 2
PEMBAHASAN

BERAGAM SUKU YANG ADA DI INDONESIA
Negara yang terdiri dari ribuan pulau membuat Indonesia terdiri dari beragam suku budaya. Ada banayak suku yang mendiami berbagai wilayah di tanah air ini. Hingga pelosok-pelosok, terdapat lebih dari seribu suku bangsa yang ada di Indonesia. Setiap suku memiliki keaneka ragaman masing-masing.

Keberagaman Budaya
Tumbuhnya kesadaran tersebut merupakan salah satu contoh nyata perilaku mendukung tata nilai kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, kerukunan, dan perdamaian meskipun terdapat perbedaan sistem sosial budaya di dalam masyarakat. Berbagai konflik sosial tersebut menunjukkan perlunya ditetapkan sebuah kebijakan politik budaya oleh pemerintah Indonesia. Kebijakan itu diharapkan mampu meredam konflik dalam segala bidang kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya maupun agama dengan menonjolkan kekayaan, potensi-potensi pengembangan, dan kemajuan keanekaragaman kebudayaan yang sejalan dan mendukung berlakunya prinsip demokrasi dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting mengembangkan sikap simpati dan empati yang berorientasi pada pengembangan keberagaman budaya dengan penegakan prinsip-prinsip persamaan.

Dampak Keberagaman Budaya di Indonesia
Sebelumnya telah dipaparkan mengenai potensi keberagaman budaya di Indonesia. Yang menjadi sebuah pertanyaan besar adalah dampak dari keberagaman budaya bagi integrasi bangsa. Di dalam potensi keberagaman budaya tersebut sebenarnya terkandung potensi disintegrasi, konflik, dan separatisme sebagai dampak dari negara kesatuan yang bersifat multietnik dan struktur masyarakat Indonesia yang majemuk dan plural. Menurut David Lockwood konsensus dan konflik merupakan dua sisi mata uang karena konsensus dan konflik adalah dua gejala yang melekat secara bersama-sama di dalam masyarakat.
Sejak merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia selalu diwarnai oleh gerakan separatisme, seperti gerakan separatis DI/TII dan RMS di Maluku. Gerakan tersebut saat ini juga berlangsung di Provinsi Papua yang dilakukan oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka) di provinsi paling timur di Indonesia tersebut.
Karena struktur sosial budayanya yang sangat kompleks, Indonesia selalu berpotensi menghadapi permasalahan konflik antaretnik, kesenjangan sosial, dan sulitnya terjadi integrasi nasional secara permanen. Hal tersebut disebabkan adanya perbedaan budaya yang mengakibatkan perbedaan dalam cara pandang terhadap kehidupan politik, sosial, dan ekonomi masyarakat.
Menurut Samuel Huntington, Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi disintegrasi paling besar setelah Yugoslavia dan Uni Soviet pada akhir abad ke-20. Menurut Clifford Geertz apabila bangsa Indonesia tidak mampu mengelola keanekaragaman etnik, budaya, dan solidaritas etniknya maka Indonesia akan berpotensi pecah menjadi negara-negara kecil. Misalnya, potensi disintegrasi akibat gerakan Organisasi Papua Merdeka yang menginginkan kemerdekaan Provinsi Papua dari Indonesia.
Pola kemajemukan masyarakat Indonesia dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, diferensiasi yang disebabkan oleh perbedaan adat istiadat (custom differentiation) karena adanya perbedaan etnik, budaya, agama, dan bahasa. Kedua, diferensiasi yang disebabkan oleh perbedaan struktural (structural differentiation) yang disebabkan oleh adanya perbedaan kemampuan untuk mengakses potensi ekonomi dan politik antaretnik yang menyebabkan kesenjangan sosial antaretnik.
Sebagai masyarakat majemuk, Indonesia memiliki dua kecenderungan atau dampak akibat keberagaman budaya tersebut, antara lain sebagai berikut.
1. Berkembangnya perilaku konflik di antara berbagai kelompok etnik.
2. Pemaksaan oleh kelompok kuat sebagai kekuatan utama yang mengintegrasikan masyarakat.
Namun, kemajemukan masyarakat tidak selalu menunjukkan sisi negatif saja. Pada satu sisi kemajemukan budaya masyarakat menyimpan kekayaan budaya dan khazanah tentang kehidupan bersama yang harmonis apabila integrasi masyarakat berjalan dengan baik. Pada sisi lain, kemajemukan selalu menyimpan dan menyebabkan terjadinya potensi konflik antaretnik yang bersifat laten (tidak disadari) maupun manifes (nyata) yang disebabkan oleh adanya sikap etnosentrisme, primordialisme, dan kesenjangan sosial.
Salah satu gejala yang selalu muncul dalam masyarakat majemuk adalah terjadinya ethnopolitic conflict berbentuk gerakan separatisme yang dilakukan oleh kelompok etnik tertentu. Etnopolitic conflict dapat dilihat dari terjadinya kasus Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Gerakan perlawanan ini bukan hanya timbul karena didasari oleh adanya ketidakpuasan secara politik masyarakat Aceh yang merasa hak-hak dasarnya selama ini direbut oleh pemerintah pusat. Selama ini rakyat Aceh merasa terpinggirkan untuk mendapatkan akses seluruh kekayaan alam Aceh yang melimpah ditambah adanya sikap primordialisme dan etnosentrisme masyarakat Aceh yang sangat kuat.
Pola etnopolitic conflict dapat terjadi dalam dua dimensi, yaitu pertama, konflik di dalam tingkatan ideologi. Konflik ini terwujud dalam bentuk konflik antara sistem nilai yang dianut oleh pendukung suatu etnik serta menjadi ideologi dari kesatuan sosial. Kedua, konflik yang terjadi dalam tingkatan politik. Konflik ini terjadi dalam bentuk pertentangan dalam pembagian akses politik dan ekonomi yang terbatas dalam masyarakat.
Perbedaan kesejarahan, geografis, pengetahuan, ekonomi, peranan politik, dan kemampuan untuk mengembangkan potensi kebudayaannya sesuai dengan kaidah yang dimiliki secara optimal sering menimbulkan dominasi etnik dalam struktur sosial maupun struktur politik, baik dalam tingkat lokal maupun nasional. Dominasi etnik tersebut pada akhirnya melahirkan kebudayaan dominan (dominant culture) dan kebudayaan tidak dominan (inferior culture) yang akan melahirkan konflik antaretnik yang berkepanjangan. Dominasi etnik dan kebudayaan dalam suatu masyarakat apabila dimanfaatkan untuk kepentingan golongan selalu melahirkan konflik yang bersifat horizontal dan vertikal.
Ciri khas masyarakat majemuk seperti keanekaragaman suku bangsa telah menghasilkan adanya potensi konflik antarsuku bangsa dan antara pemerintah dengan suatu masyarakat suku bangsa. Potensi-potensi konflik tersebut merupakan permasalahan yang ada seiring dengan sifat suku bangsa yang majemuk. Selain itu, pembangunan yang berjalan selama ini menimbulkan dampak berupa terjadinya ketimpangan regional (antara Pulau Jawa dengan luar Jawa), sektoral (antara sektor industri dengan sektor pertanian), antarras (antara pribumi dan nonpribumi), dan antarlapisan (antara golongan kaya dengan golongan miskin).



BAB 3
Penutup

Sekian materi dari saya tentang keanekaragaman bangsa Indonesia dan potensi konflik apabila ada kurang dan salah dalam penulisan kata-kata mohon dimaafkan. Kekurangan milik manusia kesempurnaan hanya milik Allah.SWT    Terima kasih

Kesimpulan

Berbagai konflik sosial tersebut menunjukkan perlunya ditetapkan sebuah kebijakan politik budaya oleh pemerintah Indonesia. Kebijakan itu diharapkan mampu meredam konflik dalam segala bidang kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya maupun agama dengan menonjolkan kekayaan, potensi-potensi pengembangan, dan kemajuan keanekaragaman kebudayaan yang sejalan dan mendukung berlakunya prinsip demokrasi dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting mengembangkan sikap simpati dan empati yang berorientasi pada pengembangan keberagaman budaya dengan penegakan prinsip-prinsip persamaan.

Daftar Pustaka






Tidak ada komentar:

Posting Komentar